November 02, 2012

Pembentukan Karakter Guru Yang Tidak Tendensial



PEMBENTUKAN KARAKTER GURU YANG TIDAK TENDENSIAL

Oke, setelah saya membaca kuis yang diadakan oleh Indonesia Berkibar, saya langsung tertarik dengan tawaran lomba blog yang diadakan oleh @IDBerkibar dengan tema “Guruku Pahlawanku”. Saya akan menuliskan pengalaman dan kegundahan saya yang terpaksa kuliah di bidang pendidikan karena orang tua tergiur dengan sertifikasi untuk guru. Guru merupakan profesi yang sangat mulia, namun banyak guru yang hanya mengharapkan gajinya. Sehingga, kalimat “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” ini sudah luntur maknanya. Mereka tidak pernah mendidik peserta didik dengan baik, mereka hanya bisa mengajar dengan datar. Beberapa guru yang sudah diangkat menjadi guru tetap seringkali menyepelekan tugas dan tanggung jawabnya karena sudah mendapat gaji pokok yang tetap. Oleh, karena itu saya sebagai seorang Mahasiswa Universitas Negeri Malang di jurusan Administrasi Pendidikan merasa ironis sekali melihat fenomena-fenomena yang sudah tidak tabu lagi. Pembentukan mental dan karakter harus dilakukan agar para guru tersebut tidak tendensial melaksanakan tugas-tugasnya. Semua guru sekarang berlomba-lomba mengejar sertifikasi dari pemerintah untuk menambah penghasilan, seharusnya dengan adanya sertifikasi itu berbanding lurus dengan kualitas mengajar para guru tersebut, tetapi hasilnya hanya beberapa persen dan tidak maksimal.
Ada lagi fenomena yang sudah tidak asing di kalangan perguruan tinggi adalah banyak sekali dosen yang berlomba-lomba ingin menjadi guru besar. Dosen-dosen tersebut ingin sekali instant dalam mendapatkan gelar guru besar, mereka membuat dan menerbitkan buku hanya sebagai syarat dengan hanya mencetak 10 eksemplar tanpa dijual ke umum. Fenomena-fenomena tadi memang benar-benar terjadi di dalam dunia pendidikan negara Indonesia. Negara Indonesia harusnya banyak meniru negara Finlandia yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Perkembangan dunia pendidikan negara ini jangan sampai ke arah yang lebih buruk, seluruh warga negara harus melakukan kerja sama yang baik untuk membangun sistem pendidikan yang baik juga. Apabila sistem pendidikan di Indonesia membaik pasti akan berbanding lurus pengaruhnya terhadap karakter dan mental warga Indonesia. Pendidik atau guru di Indonesia terlalu dimanjakan oleh pemerintah, sehingga menyebabkan mentalnya tidak kompetitif.   
Terdapat beberapa fenomena organisasional yang dapat dikategorikan sebagai gejala pemicu munculnya kebutuhan pelatihan dan pengembangan untuk guru-guru di Indonesia. Tidak tercapainya standar pencapaian kerja, guru tidak mampu melaksanakan tugasnya, guru tidak produktif, tingkat penjualan menurun, tingkat keuntungan menurun adalah beberapa contoh gelaja-gejala yang umum terjadi dalam dunia pendidikan.
Gejala yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut mencontohkan terdapat tujuh gejala utama dalam dunia pendidikan yang membutuhkan penanganan yaitu :
1. Low productivity; Produktivitas rendah
2. High absenteeism; Ketidakhadiran yang tinggi
3. High turnover; Omset (perolehan/pemasukan kotor/bruto, belum dikurangi biaya operasional atw pengeluaran yg berhubungan dg "urusan" tersebut, untuk setiap periode tertentu) tinggi
4. Low employee morale; Rendah semangat kerja guru
5. High grievances; Tinggi keluhan
6. Strike; Pemogokan
7. Low profitability. Profitabilitas (kemampuan kemungkinan untuk mendatangkan keuntungan) yang rendah
Ketujuh gejala tersebut sangat umum dijumpai dalam dunia pendidikan yang dapat disebabkan oleh setidaknya tiga faktor yang meliputi : kegagalan dalam memotivasi guru, kegagalan dunia pendidikan dalam memberi sarana dan kesempatan yang tepat bagi guru dalam melaksanakan pekerjaannya, kegagalan dunia pendidikan memberi pelatihan dan pengembangan secara efektif kepada guru.
Daritadi saya membeberkan beberapa keburukan sistem pendidikan dan kinerja para pendidik. Itu bukan berarti saya sangat skeptis dengan pendidikan negara Indonesia. Saya masih memiliki keyakinan negara ini akan terus berkembang menuju ke arah yang lebih baik terutama dalam dunia pendidikan. Disamping itu masih banyak sekali guru-guru yang memiliki kompentensi yang sangat mumpuni dan sangat berintegritas melaksanakan tugas-tugasnya. Pahlawan-pahlawan yang berprofesi sebagai guru di Indonesia juga tidak sedikit. Pak Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) juga telah membuat sebuah terobosan dalam dunia pendidikan untuk yang sulit mendapatkan akses karena merupakan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Terobosan tersebut diberi nama program Indonesia Mengajar. Program ini adalah mengirim para pengajar-pengajar muda untuk melaksanakan tugas mulia sebagai guru di desa-desa tertinggal di seluruh Indonesia. Program Indonesia Mengajar memiliki slogan yang sangat memberi semangat, slogannya adalah “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”. Dari tahun ke tahun pendaftar Indonesia Mengajar terus bertambah banyak, jadi dapat disimpulkan masih banyak sekali guru yang memiliki jiwa-jiwa sosial yang tinggi dan mau bergerak di program ini. Mereka dicetak untuk menjadi Role Model bagi siswa-siswanya yang diajar serta dapat memberikan inspirasi terhadap siswa-siswa yang berada di desa tertinggal. Para pengajar muda yang memiliki semangat membara untuk memperbaiki sistem pendidikan negara ini harus diberikan apresiasi yang setimpal, merekalah para pahlawan di Indonesia yang siap membentuk bibit-bibit yang berkualitas kelak dan mampu bersaing di kancah internasional. Semoga julukan pahlawan tanpa tanda jasa akan terus melekat di setiap hati nurani para pengajar di negara Indonesia ini. Sekian tulisan dari saya, kalau ada yang kurang berkenan saya mohon maaf. :) :)

-Bhagas Dani Purwoko-


  

0 komentar:

Posting Komentar

 
;