A: Gas, skripsimu sudah kelar belum?
Saya: Belum nih, lagi nyambi kerja buat nyari pengalaman.
A: Nggak lebih enak dikelarin dulu skripsinya biar nyaman kerjanya?
Saya: Nyantai dulu ah, habis lulus ntar juga belum tentu dapat kerja langsung.
A: Oh gitu yaa....
B: Gas, nggak pengin jadi PNS?
Saya: Nggak ah, males. Lebih enak kerja di bidang kreatif sama freelance.
B: Kan, jadi PNS enak, Gas. Gaji tetap tiap bulan, ada pensiunan juga.
Saya: Belum minat
B: Oh gitu yaa....
C: Gas, kenapa jarang sholat sih?
Saya: Hati belum nyaman sih, daripada nanti gak khusyuk.
C: Kalau nggak dibiasain ya susah malahan.
Saya: Nunggu hati dan pikiran ikhlas aja, karena sholat bukan kewajiban tapi kebutuhan.
C: Oh gitu yaa....
Umur sudah hampir seperempat abad, tapi masih saja memberi makan ego dan membenarkan segala perbuatan sebagai pembenaran. Saya menyadari sekarang, di dunia ini tidak ada benar dan salah yang hakiki, semuanya relatif. Saya harus mendengarkan omongan dari orang-orang di sekitar, tidak melulu menjadi orang yang mengagungkan keidealan pikiran diri sendiri yang sangat subyektif. Namun dalam hal ini, tidak saya saja yang selalu berkelit dan menjadi pembela pembenaran. Di luar sana, masih banyak manusia-manusia yang lebih keras kepala lagi ketimbang saya.
Pembenaran akan selalu menjadi pembenaran dan akan selalu mencari alibi yang membuat diri ini berada di posisi yang tak bisa disalahkan. Apabila sifat seperti ini tetap dipelihara hingga subur, jangan kaget apabila pembenaran tersebut dimentahkan oleh kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Kebenaran yang hakiki hanyalah milik Sang Pencipta alam semesta. Jangan terlalu menjadi seorang yang pretentious bastard, karena sudah pasti banyak orang di sekeliling yang menyayangimu dengan cara mengingatkan untuk ke arah yang lebih baik.
Pertahankan pembenaranmu dengan selalu berpikir rasional dan realistis, karena tulisan ini bisa jadi menjadi pembenaran sang penulis.
Terima kasih.
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Selalu berpikir dengan keadaan semrawut yang ada di Indonesia, sehingga saya memakluminya sebagai kebesaran Allah yang Maha Adil. Diantara 300 juta rakyat Indonesia masih belum banyak yang menemukan jati dirinya yang sebenarnya (termasuk saya), banyak dari kita yang masih sangat tercium aroma kolonialisme. Coba bayangkan saja, apabila kita semua diberi kepintaran dan ke-superior-an yang lebih oleh Allah, apa yang terjadi? Sudah jelas negara kita menguasai seluruh dunia dengan hanya satu genggaman. Banyak penghalang ketika kita ingin berinovasi dengan cara kita sendiri, siapa penghalangnya? salah satunya adalah para penjahat yang suka tidur di gedung megah sana. Hal tersebut seolah-olah menjadi pembodohan yang terorganisir dari zaman kolonial hingga sekarang. Seharusnya tidak seperti itu kan? karena setiap individu di Indonesia memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkarya dan tidak sedikit dari kita sudah mendapat apresiasi dari luar negeri, sehingga karya mereka lebih diapresiasi di luar negeri daripada di dalam negeri. Itulah kenyataan yang ada sekarang, negara kita akan stagnan di tahap negara berkembang saja agar bisa terus dibodohi asing dan mental kolonial.
Ayolah kita sama-sama bersatu untuk kebaikan negara yang sangat kita cintai ini. Idealis, utopis, dll itu sah-sah saja, namun jangan diperbesar egoisnya. Mari lunturkan egois di dalm diri kita untuk memajukan negara ini. Saya hanya bisa melakukan hal-hal yang mungkin menurut orang lain useless, tapi saya lakukan saja dengan senang hati. Tulisan ini mungkin saja bertepatan dilantiknya Presiden - Wakil Presiden 2014-2019, sehingga menurutku pas-pas aja. Saya hanya ingin melihat seluruh anak muda berkarya bersama-sama dengan penuh semangat. Kita semua kelak yang akan memimpin anak cucu kita, mari perbaiki diri mulai dari sekarang untuk kebaikan di masa yang akan datang. Terimakasih
Warm Regard,
Bhagas Dani P.
Masa-masa mendekati untuk meninggalkan kampus, oleh karena itu sesegera mungkin skripsi ini akan aku selesaikan. Kelulusan akan mengubah gelarku yang sebelumnya adalah mahasiswa akan berubah menjadi pengangguran terdidik. Aku pun tak mau menyandang gelar tersebut dan aku tak mau menjadi PNS seperti harapan ibu hanya karena bisa kredit bank dan mendapat pensiun di hari tua. Aku ingin berkarya dengan segala anugrah yang diberikan oleh Tuhan.
Namun, idealisku akan kuturunkan sedikit demi sedikit untuk bersedia menjadi karyawan. Saya harus membuat timeline hidup agar tidak keblinger menjadi karyawan. Kenapa aku tidak mau selamanya menjadi kayawan? karena aku ingin berkarya sendiri tanpa bergantung kepada siapapun. "Kerjo durung mesti makaryo" adalah bekerja belum tentu berkarya. Aku tak mau menjadi begitu. Manusia bebas berencana, tidak ada manusia yang sukses hanya dengan menjadi air yang mengalir atau percaya roda pasti berputar tanpa kuasa manusia. Takdir dari Tuhan tidak ada yang tahu, bukan berarti kita berpasrah kepada-Nya. Tuhan menyuruh kita berusaha dan berpikir terlebih dahulu, lalu berdoa kepada-Nya.
JADI INTINYA, MARI BERKARYA SEBANYAK-BANYAKNYA. :)
Capung, anak berumur 10 tahun yang tidak pernah duduk
di bangku sekolah dan tinggal di bawah kolong jembatan yang penuh dengan
tumpukan sampah. Capung tinggal bersama ayah kandungnya yang bernama Elang,
ibunya telah meninggal dunia karena pendarahan setelah melahirkan si Capung. Hidup tanpa ibu
kandung memang terasa berat, namun Capung bisa dikatakan sebagai anak yang
penuh dengan keceriaan walaupun hidup dengan serba keterbatasan.
Ayah Capung bekerja sebagai pemulung, setiap hari berangkat
pagi lalu pulang larut malam. Capung sesekali ikut ayahnya bekerja, jika tidak ikut ayahnya dia hanya bermain di sekitaran rumahnya yang kumuh itu. Capung biasanya dititipkan
kepada ibu-ibu sesama keluarga pemulung di komplek kolong jembatan tersebut.
Mereka tidak takut digusur, di dalam pikiran mereka yang terpenting adalah
anak-anak mereka tidak menjerit karena kelaparan. Capung selalu menunggu kepulangan ayahnya
walaupun sudah larut malam, karena capung ingin mendapatkan pelukan hangat dari
ayahnya yang baru pulang mencari nafkah untuknya.
Suatu hari di saat matahari tak enggan menunjukkan sinarnya
ke bumi, Capung menemani ayahnya bekerja. Kali ini ayah capung memulung di
komplek yang dihuni oleh para orang elit (kelihatannya), Capung sangat gembira
karena melihat banyak rumah bertingkat, mobil berjejer, dan halaman rumah yang luas. Tiba-tiba
Capung berhenti di salah satu sudut perempatan komplek sambil menyaksikan anak-anak
komplek seumuran Capung bermain sepak bola di lapangan yang berukuran sekitar
8x4m. Tanpa pikir panjang, Capung langsung meminta ijin kepada ayahnya untuk
bermain sepak bola sembari menunggu ayahnya selesai memulung di komplek
tersebut. Setelah si Capung diijinkan oleh ayahnya, 10 menit kemudian Capung
sudah kembali kepada bapaknya. Ayahnya bertanya sambil mengelus kepala Capung,”nak,
kok cepet banget main sepak bolanya? “. “Aku dihina yah”, ujar Capung dengan
wajah yang menggerutu. “Dihina bagaimana?”, jawab ayah Capung. Raut wajah
menahan tangis terlihat di wajah Capung, lalu Capung menjawab pertanyaan
ayahnya,”Yah, anak-anak itu kok sombong yaa? Mereka tidak punya hati, mereka
jahat, mentang-mentang mereka tidak hidup di bawah kolong jembatan lalu bisa menghinaku dengan umpatan yang buat aku
sakit hati. Aku dihina anak sampah, anak yang bau, penuh dengan bau kemiskinan,
sampai kapanpun selalu miskin, begitu yah kata-kata mereka.” Si ayah langsung
berlutut di hadapan Capung dan memegang kedua tangan Capung, lalu berucap,”maafkan
ayahmu ya, nak. Kamu dilahirkan dan dititipkan oleh Tuhan di keluarga miskin.
Ayah sebagai kepala keluarga sangat sedih sekali karena tidak bisa menolong
ibumu ketika pendarahan seusai melahirkanmu dan tidak mampu menyekolahkanmu. Maka dari itu, ayahmu ini tidak
mau menyia-nyiakan sisa hidup yang ada. Ayah ingin berjuang untukmu, agar bisa menyekolahkanmu
dan kelak hidupmu menjadi layak, nak. Kamu jangan sakit hati apabila dihina
anak sampah, karena banyak yang bisa dipelajari dari sampah.” Capung spontan
memotong pebicaraan ayahnya,”kok bisa sih? Sampah kan bau, gak berguna, menjijikkan,
yah.” Ayahnya langsung menjawab,”memang sampah begitu adanya, namun sampah tak
selamanya jadi sampah. Sampah sekarang ini dapat di daur ulang menjadi pupuk,
kerajinan tangan, pakan ternak, dll. Oleh sebab itu, jangan takut menjadi
sampah. Perjalanan hidup berawal dari 0 (sampah) dan harus terus diperbaiki
(daur ulang), sehingga suatu saat si anak sampah itu dapat berguna untuk banyak
orang. Semangat terus ya nak menjalani hidup, ayah percaya kelak kamu menjadi
orang yang sukses dapat membeli rumah bertingkat, memiliki halaman rumah yang
luas, mobil berjejer, dan yang terpenting adalah kamu tetap menjadi anak sampah
yang terdaur ulang tanpa memelihara perbuatan sombong.” Seketika Capung
meneteskan air matanya dan langsung memeluk ayahnya dengan sangat erat.
Akhirnya, hari-hari capung diselimuti oleh rasa optimis. Singkat cerita capung dikursuskan
ayahnya di lembaga bimbingan belajar komputer, lalu Capung diterima bekerja di
perusaahaan swasta yang bergerak di bidang komunikasi. Dikarenakan Capung
banyak prestasi ketika bekerja selama 5 tahun, perusahaan memberi promosi
jabatan kepada Capung sebagai General Manager. Sehingga akhirnya Capung dapat mewujudkan
cita-citanya dan masa tua ayahnya sudah lebih dari cukup dengan hidup bersama
anak, menantu, dan cucu-cucunya yang lucu. Selesai.
Langganan:
Postingan (Atom)



- Follow Me on Twitter!
- "Add Me on Facebook!
- RSS
Contact