Semua terlihat biasa saja dewasa ini di negaraku Indonesia. Pemerkosaan, pembunuhan, teroris, korupsi, suap, judi, prostitusi, dan lain lain hanya menjadi tontonan di layar televisi, lalu rata-rata masyarakat menggunakan berita sebagai keluhan-keluhan tanpa aksi. Terutama golongan muda yang sebagian besar mereka apatis dan skeptis dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Jika kalian diam saja dan mengeluh apakah akan ada perubahan di negara ini?. Di negara ini cuma dibedakan menjadi 2 yaitu eksekutor dan komentator. Si eksekutor merasa paling punya hak prerogatif, sedangakan si komentator cuma modal omong doang tanpa melakukan apa-apa.
RUMAH SAKIT BRENGSEK
APARAT KEPARAT
HUKUM LEMBAH HITAM
Tulisan di atas merupakan seruan dari golongan anak punk, mereka menyerukan tulisan tersebut dalam bentuk lagu/musik. Di Indonesia tidak ada pilihan hidup dengan keadilan, karena keadilan hanya di dapat
oleh para kapital dan korporat. Menurut saya negara kita bukan negara demokrasi, melainkan "pseudodemokrasi" (seolah-olah demokrasi, namun tidak).
Apalagi sih keluhan para anak muda di negara ini? Mereka lantang saat mengeluh (demo), tapi attitude mereka sehari-hari jauh dari kata teladan, ya sama sajalah. Banyak juga anak muda dan banyak orang yang sangat antipati dengan dunia politik, mereka sangat apatis dan skeptis dengan dunia politik di negara ini.
Ayolah kita harus menyadari, jika kita menginginkan perubahan yag lebih baik di negara ini, maka kita juga harus beraksi turun tangan langsung demi Indonesia menjadi negara yang terbaik. Negara Indonesia sangat butuh peran anak muda, regenerasi terus berlangsung. Lihatlah sejarah kemerdekaan negara ini, peran anak muda sangatlah besar. Jangan bikin malu kepada pahlawan-pahlawan dan leluhur-leluhur kita yang sudah berjuang mati-matian untuk memerdekakan anak cucunya.
Saya tidak sok menceramahi kalian, namun saya juga kurang lebih sama seperti kalian yang skeptis dan apatis, tapi saya berusaha terus untuk melakukan sesuatu hal baik untuk negara ini walaupun itu hanya kegiatan dalam skala kecil. Oleh karena itu, ketika saya mendengar pak Anies Baswedan ikut konvensi Partai Demokrat untuk jadi bakal calon presiden 2014-2019, saya langsung semangat mendukungnya. Maka dari itu ketika mendengar pergerakan yang bernama Turun Tangan, saya tidak pikir panjang untuk ikut pergerakan itu. Saya ikut Turun Tangan tidak ada pengaruh dari siapapun, saya murni tahu track record pak Anies Baswedan yang sangat kredibel untuk memimpin negara Indonesia. Saya tidak punya alasan untuk tidak mendukung pak Anies Baswedan, karena beliau sudah menginspirasi banyak orang di Indonesia.
"SAYA TIDAK DIBAYAR SEPESERPUN OLEH ANIES BASWEDAN, SAYA TULUS MENJADI RELAWAN TURUN TANGAN DEMI KEADAAN KEADAAN SOSIAL POLITIK DI INDONESIA YANG LEBIH SEHAT"
Warm Regards,
Bhagas Dani Purwoko
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Desember 27, 2013
Anies Baswedan,
Gerakan Sosial,
Indonesia,
Konvensi Partai Demokrat,
Politik,
Presiden,
Relawan,
Sosial
0
komentar
Demi Indonesia
November 02, 2012
Adminitrasi,
Guru,
Indonesia,
Karakter,
Mengajar,
My Story,
Pahlawan,
Pendidikan,
Realita,
Sosial,
Tendensial
0
komentar
Pembentukan Karakter Guru Yang Tidak Tendensial
PEMBENTUKAN
KARAKTER GURU YANG TIDAK TENDENSIAL
Oke,
setelah saya membaca kuis yang diadakan oleh Indonesia Berkibar, saya langsung
tertarik dengan tawaran lomba blog yang diadakan oleh @IDBerkibar dengan tema “Guruku
Pahlawanku”. Saya akan menuliskan pengalaman dan kegundahan saya yang terpaksa
kuliah di bidang pendidikan karena orang tua tergiur dengan sertifikasi untuk
guru. Guru merupakan profesi yang sangat mulia, namun banyak guru yang hanya
mengharapkan gajinya. Sehingga, kalimat “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”
ini sudah luntur maknanya. Mereka tidak pernah mendidik peserta didik dengan
baik, mereka hanya bisa mengajar dengan datar. Beberapa guru yang sudah
diangkat menjadi guru tetap seringkali menyepelekan tugas dan tanggung jawabnya
karena sudah mendapat gaji pokok yang tetap. Oleh, karena itu saya sebagai
seorang Mahasiswa Universitas Negeri Malang di jurusan Administrasi Pendidikan
merasa ironis sekali melihat fenomena-fenomena yang sudah tidak tabu lagi.
Pembentukan mental dan karakter harus dilakukan agar para guru tersebut tidak
tendensial melaksanakan tugas-tugasnya. Semua guru sekarang berlomba-lomba
mengejar sertifikasi dari pemerintah untuk menambah penghasilan, seharusnya
dengan adanya sertifikasi itu berbanding lurus dengan kualitas mengajar para
guru tersebut, tetapi hasilnya hanya beberapa persen dan tidak maksimal.
Ada
lagi fenomena yang sudah tidak asing di kalangan perguruan tinggi adalah banyak
sekali dosen yang berlomba-lomba ingin menjadi guru besar. Dosen-dosen tersebut
ingin sekali instant dalam mendapatkan gelar guru besar, mereka membuat dan
menerbitkan buku hanya sebagai syarat dengan hanya mencetak 10 eksemplar tanpa
dijual ke umum. Fenomena-fenomena tadi memang benar-benar terjadi di dalam
dunia pendidikan negara Indonesia. Negara Indonesia harusnya banyak meniru
negara Finlandia yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Perkembangan
dunia pendidikan negara ini jangan sampai ke arah yang lebih buruk, seluruh
warga negara harus melakukan kerja sama yang baik untuk membangun sistem
pendidikan yang baik juga. Apabila sistem pendidikan di Indonesia membaik pasti
akan berbanding lurus pengaruhnya terhadap karakter dan mental warga Indonesia.
Pendidik atau guru di Indonesia terlalu dimanjakan oleh pemerintah, sehingga
menyebabkan mentalnya tidak kompetitif.
Terdapat
beberapa fenomena organisasional yang dapat dikategorikan sebagai gejala pemicu
munculnya kebutuhan pelatihan dan pengembangan untuk guru-guru di Indonesia.
Tidak tercapainya standar pencapaian kerja, guru tidak mampu melaksanakan
tugasnya, guru tidak produktif, tingkat penjualan menurun, tingkat keuntungan
menurun adalah beberapa contoh gelaja-gejala yang umum terjadi dalam dunia
pendidikan.
Gejala
yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut mencontohkan terdapat tujuh gejala utama
dalam dunia pendidikan yang membutuhkan penanganan yaitu :
1. Low productivity; Produktivitas rendah
2. High absenteeism; Ketidakhadiran yang tinggi
3. High turnover; Omset
(perolehan/pemasukan
kotor/bruto, belum dikurangi biaya operasional atw pengeluaran yg berhubungan
dg "urusan" tersebut, untuk setiap periode tertentu) tinggi
4. Low employee morale; Rendah semangat kerja guru
5. High grievances; Tinggi keluhan
6. Strike; Pemogokan
7. Low profitability. Profitabilitas
(kemampuan
kemungkinan untuk mendatangkan keuntungan) yang rendah
Ketujuh
gejala tersebut sangat umum dijumpai dalam dunia pendidikan yang dapat
disebabkan oleh setidaknya tiga faktor yang meliputi : kegagalan dalam
memotivasi guru, kegagalan dunia pendidikan dalam memberi sarana dan kesempatan
yang tepat bagi guru dalam melaksanakan pekerjaannya, kegagalan dunia
pendidikan memberi pelatihan dan pengembangan secara efektif kepada guru.
Daritadi
saya membeberkan beberapa keburukan sistem pendidikan dan kinerja para pendidik.
Itu bukan berarti saya sangat skeptis dengan pendidikan negara Indonesia. Saya
masih memiliki keyakinan negara ini akan terus berkembang menuju ke arah yang
lebih baik terutama dalam dunia pendidikan. Disamping itu masih banyak sekali
guru-guru yang memiliki kompentensi yang sangat mumpuni dan sangat
berintegritas melaksanakan tugas-tugasnya. Pahlawan-pahlawan yang berprofesi
sebagai guru di Indonesia juga tidak sedikit. Pak Anies Baswedan (Rektor
Universitas Paramadina) juga telah membuat sebuah terobosan dalam dunia
pendidikan untuk yang sulit mendapatkan akses karena merupakan daerah 3T
(terdepan, terluar, tertinggal). Terobosan tersebut diberi nama program
Indonesia Mengajar. Program ini adalah mengirim para pengajar-pengajar muda
untuk melaksanakan tugas mulia sebagai guru di desa-desa tertinggal di seluruh
Indonesia. Program Indonesia Mengajar memiliki slogan yang sangat memberi
semangat, slogannya adalah “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”. Dari
tahun ke tahun pendaftar Indonesia Mengajar terus bertambah banyak, jadi dapat
disimpulkan masih banyak sekali guru yang memiliki jiwa-jiwa sosial yang tinggi
dan mau bergerak di program ini. Mereka dicetak untuk menjadi Role Model bagi siswa-siswanya yang
diajar serta dapat memberikan inspirasi terhadap siswa-siswa yang berada di
desa tertinggal. Para pengajar muda yang memiliki semangat membara untuk
memperbaiki sistem pendidikan negara ini harus diberikan apresiasi yang
setimpal, merekalah para pahlawan di Indonesia yang siap membentuk bibit-bibit
yang berkualitas kelak dan mampu bersaing di kancah internasional. Semoga
julukan pahlawan tanpa tanda jasa akan terus melekat di setiap hati nurani para
pengajar di negara Indonesia ini. Sekian tulisan dari saya, kalau ada yang
kurang berkenan saya mohon maaf. :) :)
Langganan:
Postingan (Atom)


- Follow Me on Twitter!
- "Add Me on Facebook!
- RSS
Contact